WELCOME TO THE BLOG SUTRISNO MBAH NDO
Showing posts with label Kabupaten Tulungagung. Show all posts
Showing posts with label Kabupaten Tulungagung. Show all posts

Thursday, January 10, 2013

Wisata Kuliner

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Tulungagung memiliki jajanan khas, yaitu:


Sate dan Gule kambing : Sate Tulungagung berbeda dengan sate Madura dan sate Ponorogo,yang bumbunya mengandung kacang, tetapi memakai bumbu garam, merica, petis, kecap dan ditaburi irisan bawang merah dan daun jeruk. Sehingga rasanya memang khas Tulungagungan.

Nasi Lodho : Ayam dimasak kuah dengan bumbu kuning

Sredek : Makanan yang terbuat dari gethuk ketela putih putih, kemudian digoreng. Biasa dimakan dengan tempe goreng dan cabe mentah (sebagai lalap), adalah makanan khas Tulungagung selatan.

Kemplang : makanan yang terbuat dari ketela yang diparut dikasih bumbu-bumbu dibentuk pipih diatasnya dikasih kacang lotho lalu di goreng itu juga makanan khas tulungagung

Emping mlinjo : makanan ini terbuat dari biji blinjo yang dipipihkan

Krupuk Gadung

Soto Ayam : Warung terlaris ada di Sepanjang jalan Perempatan Cuiri ke selatan

Nasi pecel

Sompel : Lontong diiris dicampur sayur lodeh

Lopis :  makanan seperti lontong biasanya dicampur cenil, gethuk dikasih larutan gula merah

Cenil : Yang dibuat dari tepung ketela digiligkan biasanya buat tambahan getuk

Kerupuk Rambak : Produksi kulit sapi terbanyak di seputaran Botoran Panggungrejo kota, Sembung.

Gethuk : singkong rebus yang dihaluskan dan dicampur dengan gula ditaburi parutan kelapa diatasnya

Srondeng : parutan kelapa digoreng kadang-kadang buat campuran dendeng sapi

Jenang sabun : Jenang yang dimakan kenyal

Jenang grendol : makanan terbuat dari tepung kanji

Geti : terbuat dari wijen kadang-kadang dicampur kacang

Kopi cethe : ampas kopi yang dijadikan bahan pengoles rokok

Punten :  nasi ketan yang dibumbui dikasih santan dan ditumbuk halus

Brondong ketan

Capar tape : tape yang terbuat dari ketela pohon, dicampur toge, kemudian disiram sambal pecel.

Glondhong juruh : asli Sambitan, terbuat dari kukusan ketela pohon disiram juruh kental. (mantab)

Sego bantingan : Nasi yang sudah dibungkus dijual secara murah meriah.

Gembrot :  Jajanan khas tersebut biasa dijajakan di berbagai penjuru Kabupaten Tulungagung.


Wisata Budaya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Tulungagung memiliki beberapa kesenian khas yang bisa dijadikan magnet untuk mengangkat pariwisata Tulungagung, di antaranya:









Kesenian jaranan dan reog kendang serta wayang kulit bahkan mendapat dukungan yang luas dari mayoritas masyarakat Tulungagung untuk maju dan berkembang serta disukai masyarakat sekitar.


Geografi

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Batas-batas wilayah Kabupaten Tulungagung secara administratif adalah sebagai berikut:

  • Sebelah utara: Kabupaten Kediri
  • Sebelah Selatan: Samudera Hindia
  • Sebelah Timur: Kabupaten Blitar
  • Sebelah Barat: Kabupaten Trenggalek

Secara topografik, Tulungagung terletak pada ketinggian 85 m di atas permukaan laut (dpl). Bagian barat laut Kabupaten Tulungagung merupakan daerah pegunungan yang merupakan bagian dari pegunungan Wilis-Liman. Bagian tengah adalah dataran rendah, sedangkan bagian selatan adalah pegunungan yang merupakan rangkaian dari Pegunungan Kidul. Di sebelah barat laut Tulungagung, tepatnya di Kecamatan Sendang, terdapat Gunung Wilis sebagai titik tertinggi di Kabupaten Tulungagung yang memiliki ketinggian 2552 m. Di tengah Kota Tulungagung, terdapat Kali Ngrowo yang merupakan anak Kali Brantas dan seolah membagi Kota Tulungagung menjadi dua bagian: utara dan selatan.


Sejarah

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Pada tahun 1205 M, masyarakat Thani Lawadan di selatan Tulungagung, mendapatkan penghargaan dari Raja Daha terakhir, Kertajaya, atas kesetiaan mereka kepada Raja Kertajaya ketika terjadi serangan musuh dari timur Daha. Penghargaan tersebut tercatat dalam Prasasti Lawadan dengan candra sengkala "Sukra Suklapaksa Mangga Siramasa" yang menunjuk tanggal 18 November 1205 M. Tanggal keluarnya prasasti tersebut akhirnya dijadikan sebagai hari jadi Kabupaten Tulungagung sejak tahun 2003.


Di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, terdapat Candi Gayatri. Candi ini adalah tempat untuk mencandikan Gayatri (Sri Rajapatni), istri keempat Raja Majapahit yang pertama, Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana), dan merupakan ibu dari Ratu Majapahit ketiga, Sri Gitarja (Tribhuwanatunggadewi), sekaligus nenek dari Hayam Wuruk (Rajasanegara), raja yang memerintah Kerajaan Majapahit di masa keemasannya. Nama Boyolangu itu sendiri tercantum dalam Kitab Nagarakertagama yang menyebutkan nama Bayalangu/Bhayalango (bhaya = bahaya, alang = penghalang) sebagai tempat untuk menyucikan beliau. Berikut ini adalah kutipan Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia:


Prajnyaparamitapuri itulah nama candi makam yang dibangun
Arca Sri Padukapatni diberkati oleh Sang Pendeta Jnyanawidi
Telah lanjut usia, paham akan tantra, menghimpun ilmu agama
Laksana titisan Empu Barada, menggembirakan hati Baginda
(Pupuh LXIX, Bait 1)

Di Boyolangu akan dibangun pula candi makam Sri Rajapatni
Pendeta Jnyanawidi lagi yang ditugaskan memberkati tanahnya
Rencananya telah disetujui oleh sang menteri demung Boja
Wisesapura namanya, jika candi sudah sempurna dibangun
(Pupuh LXIX, Bait 2)

Makam rani: Kamal Padak, Segala, Simping
Sri Ranggapura serta candi Budi Kuncir
Bangunan baru Prajnyaparamitapuri
Di B
oyolangu yang baru saja dibangun
(Pupuh LXXIV, Bait 1)