Ritual Tiban adalah tari sakral
untuk mendatangkan hujan. Di masyarakat pendukungnya, tetesan darah akibat
permainan tiban adalah lambang perjuangan yang gigih dalam mencari air,
utamanya guyuran hujan yang mutlak diperlukan petani di sawah ladang. Ritual tiban
biasanya dilaksanakan di musim kemarau.
Kesenian tradisional Tiban sudah
mendarah daging masyarakat Wajak Lor Kecamatan Boyolangu Kobupaten Tulungagung.
Suatu permainan adu kekuatan daya tahan tubuh dengan menggunakan Cambuk sebagai
senjatanya. Berdasarkan sejarah budirinya daerah Wajak, istilah Tiban muncul
pada zaman pemerintahan Tumenggung Surontani II. Hal ini dimaksudkan untuk
mencari bibit-bibit prajurit yang tnngguh dan gagah perkasa yang nantinya akan
dipersiapkan untuk menghadapi Kerajaan Mataram.
Sampai
sekarang Tiban masih tetap membudaya dalam masyarakat daerah Wajak. Namun telah
mengalami perubahan dalam hal tujuan diadakannya pertunjukan tersebut. Tujuan
Tiban semula yakin untuk mencari prajurit-praiurit yang tangguh, sudah dianggap
tidak lagi berfungsi atau berguna bagi masyarakat Wajak yang ada di negara
Indonesia yang sudah merdeka. Sehingga masyarakat sebagai pendukung dari
kebudayaan akan mengadakan refisi / perubahan terhadap tujuan dari kesenian
Tiban tersebut.

No comments:
Post a Comment